Analisi studi kasus menurut Teori Kultivasi
MAKALAH KOMUNIKASI MASSA
ANALISIS PROGRAM TELEVISI BEDASARKAN TEORI
KULTIVASI
Untuk Memenuhi Salah Satu
tugas
Mata Kuliah Komunikasi
Massa

Disusun oleh:
Deri Hanafy D (45160045)
Rangga Alfara (45160060)
Taufik Hidayat (45160057)
Andhi A Jaelany (45160030)
M Irfan Radika (45160090)
M Irfan Fauzi (45160046)
Marzuki Mohammad (45160038)
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS BINA SARANA INFORMATIKA
2017
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Analisis
Program Televisi Bedasarkan Teori Kultivasi”. Shalawat beriring salam senantiasa
terlimpahkan kepada Baginda Nabi besar Muhammad SAW, kepada keluarganya, para
sahabatnya, dan kepada umatnya hingga akhir zaman, Aamiin.
Karya tulis berupa makalah yang
berjudul “Analisis Program Televisi Bedasarkan Teori
Kultivasi”
ini, merupakan suatu karya tulis yang terbentuk atas kerja sama kelompok, di
mana tugas ini merupakan persyaratan dari aspek penilaian mata kuliah (Komunikasi
Massa). Dalam penyelesaian karya tulis sederhana ini, penulis menemukan
beberapa kesulitan berupa minimnya jurnal-jurnal yang secara spesifik membahas Analisis
Program Televisi Bedasarkan Teori Kultivasi. Akan tetapi berkat kerjasama kelompok
melalui diskusi sebagai bahan penyusunan karya tulis. Pada akhirnya karya tulis
ini dapat terselesaikan meskipun masih terdapat banyak kekurangan.
Akhir kata penulis mohon maaf, karena penulis sadar sekali bahwa karya
tulis ini masih banyak sekali kekurangan di sana sini, baik dari segi
penyususunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ilmiah ini. Penulis berharap semoga makalah ilmiah tentang
“Analisis Program Televisi Bedasarkan Teori Kultivasi” ini, dapat
bermanfaat bagi para pembaca khususnya para pelajar.
Bandung, Mei 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI ...............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................
1.1 Latar Belakang ..........................................................................................................
1.2 Tujuan .......................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
......................................................................................................
2.1 Perkembangan teori kultivasi....................................................................................
2.2 Teori kultivasi dalam media massa............................................................................
2.3 Asumsi dari Teori Kultivasi.......................................................................................
2.4 Aplikasi Teori Kultivasi Pada
Realitas Kehidupan ..................................................
2.5 Analisis Teori Kultivasi ............................................................................................
BAB III PENUTUP.................................................................................................................
3.1 Kesimpulan ...............................................................................................................
3.2 Saran .........................................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA .................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dunia komunikasi
saat ini lebih meluas, komunikasi tidak akan ada habisnya untuk dibahas,
sebagai contohnya komunikasi ada beberapa pengelompokan antara lain komunikasi
bisnis, komunikasi politik, komunikasi antar pribadi, komunikasi antar budaya, dan
komunikasi massa. Akhir-akhir ini yang banyak dibicarakan adalah komunikasi
massa. Komunikasi massa berasal dari istilah bahasa Inggris, mass
communication, sebagai kependekan dari mass media communication. Artinya,
komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang mass mediated.
Istilah mass communication atau communications diartikan sebagai salurannya,
yaitu media massa (mass media) sebagai kependekan dari media of mass
communication. Massa mengandung pengertian orang banyak, mereka tidak harus
berada di lokasi tertentu yang sama, mereka dapat tersebar atau terpencar di
berbagai lokasi, yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat
memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama. Berlo (dalam Wiryanto, 2005)
mengartikan massa sebagai meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat
komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran.
Komunikasi massa
saat ini sedang meroket dan banyak dibutuhkan maupun menjadi konsumsi publik.
Contohnya Televisi, radio, maupun surat kabar, semua komunikasi massa tersebut
sudah menjadi konsumsi publik pada saat ini. Bahkan media televisi ini ada tipe
penontonnya atau di dalam teori kultivasi disebut sebagai pecandu, ada dua tipi
pecandu yaitu pecandu fanatik dan pecandu biasa. Karena televisi sudah menjadi
konsumsi publik maka hampir sebagian besar. Bahkan sebagian besar masyarakat
Indonesia sudah memiliki televisi. Sehingga dunia entertain juga berlomba-lomba
menyuguhkan tayangan yang dapat menghibur. Banyak sekali tayangan-tayangan yang
disuguhkan sekarang ini, ada kartun, infotainment, berita, sitkom, sinetron,
dan masih banyak lagi. Akan tetapi diantara banyak tayangan tersebut tidak
semuanya mendidik, tayangan yang disuguhkan juga tak luput dari pengaruh,
karena termasuk dalam ciri dalam media televisi yaitu persuasif. Dalam hal ini,
televisi mampu mempengaruhi lingkungan melalui penggunaan berbagai simbol.
Pengaruh yang ada pada media televisi tidak hanya pengaruh yang baik saja, akan
tetapi pengaruh buruk akan ada pada televisi. Pengaruh buruk ini pun tidak
hanya sekedar buruk, akan tetapi sudah mengarah ke dalam tindak kekerasan.
Dalam komunikasi massa ada salah satu teory yang menjelaskan keterkaitan antara media komunikasi dengan tindak kekerasan, salah satunya adalah teory kultivasi. Makalah ini akan menjelaskan secara luas bagaimana untuk mengetahui sejauh mana tindak kekerasan yang ada pada media televisi dijelaskan dengan teori kultivasi ini.
Dalam komunikasi massa ada salah satu teory yang menjelaskan keterkaitan antara media komunikasi dengan tindak kekerasan, salah satunya adalah teory kultivasi. Makalah ini akan menjelaskan secara luas bagaimana untuk mengetahui sejauh mana tindak kekerasan yang ada pada media televisi dijelaskan dengan teori kultivasi ini.
1.2
Tujuan
1. Untuk
mengetahui dan memahami hasil dari studi kasus yang telah di analisis.
2. Untuk
menambah ilmu pengetahuan bagi para pembaca.
3. Untuk
memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Komunikasi
massa.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perkembangan Teori Kultivasi
Gagasan tentang cultivation theory
atau teori kultivasi untuk pertama kalinya dikemukakan oleh George Gerbner
bersama dengan rekan-rekannya di Annenberg School of Communication di
Universitas Pannsylvania tahun 1969 dalam sebuah artikel berjudul the
televition World of Violence. Artikel tersebut merupakan tulisan dalam buku
bertajuk Mass Media and Violence yang disunting D. Lange, R. Baker dan S. Ball
(eds).
Awalnya, Gerbner melakukan penelitian
tentang “Indikator Budaya” dipertengahan tahun 60-an untuk mempelajari pengaruh
menonton televisi. Dengan kata lain, Gerbner ingin mengetahui dunia nyata
seperti apa yang dibayangkan, dipersepsikan oleh penonton televisi itu? Itu
juga bisa dikatakan bahwa penelitian kultivasi yang dilakukannya lebih
menekankan pada “dampak” (Nurudin, 2004). Menurut Wood (2000) kata ‘cultivation’
sendiri merujuk pada proses kumulatif dimana televisi menanamkan suatu keyakinan tentang realitas sosial kepada khalayaknya.
Teori kultivasi muncul dalam situasi
ketika terjadi perdebatan antara kelompok ilmuwan komunikasi yang meyakini efek
sangat kuat media massa (powerfull effects model) dengan kelompok yang
mempercayai keterbatasan efek media (limited effects model), dan juga
perdebatan antara kelompok yang menganggap efek media massa bersifat langsung
dengan kelompok efek media massa bersifat tidak langsung atau kumulatif. Teori
kultivasi muncul untuk meneguhkan keyakinan orang, bahwa efek media massa lebih
besifat kumulatif dan lebih berdampak pada tataran sosial budaya dari pada individual. Menurut Signorielli dan Morgan (Griffin, 2004) analisis kultivasi
merupakan tahap lanjutan dari paradigma penelitian tentang efek media, yang
sebelumnya dilakukan oleh George Gerbner yaitu ‘cultural indicator’ yang
menyelidiki:
a.
Proses institusional dalam produksi isi
media,
b.
Image (kesan) isi media, dan
c.
Hubungan antara terpaan pesan televisi
dengan keyakinan dan perilaku khalayak.
Teori kultivasi ini di awal
perkembangannya lebih memfokuskan kajiannya pada studi televisi dan audience,
khususnya pada tema-tema kekerasan di televisi. Tetapi dalam perkembangannya,
ia juga bisa digunakan untuk kajian di luar tema kekerasan. Misalnya, seorang
mahasiswa Amerika di sebuah universitas pernah mengadakan pengamatan tentang
para pecandu opera sabun (heavy soap opera). Mereka, lebih memungkinkan
melakukan affairs (menyeleweng), bercerai dan menggugurkan kandungan
dari pada mereka yang bukan termasuk kecanduan opera sabun (Dominick, 1990).
Gerbner bersama beberapa rekannya
kemudian melanjutkan penelitian media massa tersebut dengan memfokuskan pada
dampak media massa dalam kehidupan sehari-hari melalui Cultivation Analysis.
Dari analisis tersebut diperoleh berbagai temuan yang menarik dan orisinal yang
kemudian banyak mengubah keyakinan orang tentang relasi antara televisi dan
khalayaknya berikut berbagai efek yang menyertainya. Karena konteks penelitian
ini dilakukan dalam kaitan merebaknya acara kekerasan di televisi dan
meningkatnya angka kejahatan di masyarakat, maka temuan penelitian ini lebih
terkait efek kekerasan di media televisi terhadap persepsi khalayaknya tentang
dunia tempat mereka tinggal.
Salah satu temuan terpenting adalah
bahwa penonton televisi dalam kategori berat (heavy viewers)
mengembangkan keyakinan yang berlebihan tentang dunia sebagai tempat yang
berbahaya dan menakutkan. Sementara kekerasan yang mereka saksikan ditelevisi
menanamkan ketakutan sosial (sosial paranoia) yang membangkitkan
pandangan bahwa lingkungan mereka tidak aman dan tidak ada orang yang dapat
dipercaya. Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai
tertentu. Media pun kemudian memelihara dan menyebarkan sikap dan nilai
tersebut antar anggota masyarakat, kemudian mengikatnya bersama-sama pula. Media mempengaruhi penonton dan masing-masing
penonton itu meyakininya. Jadi, para pecandu televisi itu akan punya
kecenderungan sikap yang sama satu sama lain.
2.2 Teori Kultivasi Dalam Media Massa
Penelitian kultivasi menekankan bahwa
media massa sebagai agen sosalisasi dan menyelidiki apakah penonton televisi
itu lebih mempercayai apa yang disajikan televisi daripada apa yang mereka
lihat sesungguhnya. Gerbner dan kawan-kawannya melihat bahwa film drama yang
disajikan di televisi mempunyai sedikit pengaruh tetapi sangat penting di dalam
mengubah sikap, kepercayaan, pandangan penonton yang berhubungan dengan
lingkungan sosialnya.
Gerbner berpendapat bahwa media massa
menanamkan dan memperkuat ide-ide dan nilai-nilai yang telah terbentuk
sebelumnya di dalam masyarakat atau budaya yang telah terbentuk. Media
mempertahankan dan menyebarluaskan nilai-nilai tersebut diantara
anggota-anggota kebudayaan tersebut, dan mengikatnya menjadi sebuah kesatuan. Gerbner menyebutnya sebagai efek "mainstreaming"
atau efek yang tendensius.
Gerbner dan kawan-kawan memperkenalkan
faktor-faktor mainstreaming dan resonance (Gerbner, Gross, Morgan
dan Signorielli, 1980 dalam Griffin, 2004). Mainstreaming diartikan
sebagai kemampuan memantapkan dan menyeragamkan berbagai pandangan di
masyarakat tentang dunia di sekitar mereka (Tv stabilize and homogenize
views within a society). Dalam proses ini televisi pertama kali akan
mengaburkan (bluring), kemudian membaurkan (blending) dan
melenturkan (bending) perbedaan realitas yang beragam menjadi pandangan
mainstream tersebut. Sedangkan resonance mengimplikasikan pengaruh pesan
media dalam persepsi realitas dikuatkan ketika apa yang dilihat
orang di televisi adalah apa yang mereka lihat dalam kehidupan nyata.
Dalam konsep teori kultivasi
mencerminkan adanya kategorisasi audiens kedalam dua jenis penikmat televisi,
yakni "penonton berat/pecandu televisi" dan "penonton
ringan". Pecandu berat televisi (heavy viewers), yakni pecandu
berat televisi yang seakan-akan dia lebih terpengaruh atau lebih percaya kepada
realitas yang dibentuk oleh media dibandingkan dengan kepercayaannya terhadap
realitas yang dia alami sendiri secara langsung. Kelompok penonton yang termasuk kategori berat, umumnya memiliki akses dan
kepemilikan media yang lebih terbatas. Hal itulah yang menyebabkan mereka mengandalkan televisi sebagai sumber informasi dan
hiburan mereka. Karena keterpakuan pada satu media ini, membuat keragaman dan
alternatif informasi yang mereka miliki menjadi terbatas. Itulah sebabnya
kemudian mereka membentuk gambaran tentang dunia dalam pikirannya sebagaimana
yang digambarkan televisi.
Sedangkan penonton ringan (light viewers) cenderung menggunakan jenis media dan
sumber informasi yang lebih bervariasi (baik komunikasi bermedia maupun sumber
personal. Kelompok penonton yang termasuk kategori
ringan, umumnya memiliki akses media yang
lebih luas, sehingga sumber informasi mereka menjadi lebih variatif. Karena
kenyataan ini, maka pengaruh televisi tidak cukup kuat pada diri mereka.
Menurut teori ini, media massa
khususnya televisi diyakini memiliki pengaruh yang besar atas sikap dan perilaku
penontonnya (behavior effect). Pengaruh tersebut tidak muncul seketika
melainkan bersifat kumulatif dan tidak langsung. Inilah yang membedakan teori
ini dengan The Hypodermic Needle Theory, atau sering juga disebut
The Magic Bullet Theory, Agenda Setting Theory, Spiral Of
Silence Theory. Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa pengaruh yang muncul
pada diri penonton merupakan tahap lanjut setelah media itu terlebih dahulu
mengubah dan membentuk keyakinan-keyakinan tertentu pada diri mereka melalui
berbagai acara yang ditayangkan. Satu hal yang perlu dicermati adalah bahwa
teori ini lebih cenderung berbicara pengaruh televisi pada tingkat komunitas
atau masyarakat secara keseluruhan dan bukan pada tingkat individual. Secara implisit teori ini juga berpendapat bahwa pemirsa televisi bersifat
heterogen dan terdiri dari individu-individu yang pasif yang tidak berinteraksi
satu sama lain. Namun mereka memiliki pandangan yang sama terhadap realitas
yang diciptakan media tersebut.
2.3
Asumsi
Dari Teori Kultivasi
A.
Televisi merupakan media yang unik. Asumsi pertama menyatakan bahwa
televisi merupakan media yang unik. Keunikan tersebut ditandai oleh
karakteristik televisi yang bersifat:
1.
Pervasive (menyebar dan hampir dimiliki seluruh keluarga).
2.
Assesible (dapat diakses tanpa memerlukan kemampuan literasi atau keahlian lain),
dan
3.
Coherent (mempersentasikan pesan dengan dasar yang sama tentang masyarakat
melintasi program dan waktu).
B. Semakin banyak seseorang menghabiskan
waktu untuk menonton televisi, semakin kuat kecenderungan orang tersebut
menyamakan realitas televisi dengan realitas sosial. Jadi menurut asumsi ini, dunia nyata (real world) di sekitar
penonton dipersamakan dengan dunia rekaan yang disajikan media tersebut (symbolic
world). Dengan bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa
penonton mempersepsi apapun yang disajikan televisi sebagai kenyataan
sebenarnya. Namun teori ini tidak menggeneralisasi pengaruh tersebut
berlaku untuk semua penonton, melainkan lebih cenderung pada penonton dalam
kategori heavy viewer (penonton berat). Hasil pengamatan dan pengumpulan data
yang dilakukan oleh Gerbner dan kawan-kawan bahkan kemudian menyatakan bahwa heavy
viewer mempersepsi dunia ini sebagai tempat yang lebih kejam dan menakutkan
(the mean and scray world) daripada kenyataan sebenarnya. Fenomena inilah
yang kemudian dikenal sebagai “the mean world syndrome” (sindrom dunia
kejam) yang merupakan sebentuk keyakinan bahwa dunia sebuah tempat yang
berbahaya, sebuah tempat dimana sulit ditemukan orang yang dapat dipercaya,
sebuah tempat dimana banyak orang di sekeliling kita yang dapat membahayakan
diri kita sendiri. Untuk itu orang harus berhati-hati menjaga diri. Pembedaan
dan pembandingan antara heavy dan light viewer di sini
dipengaruhi pula oleh latar belakang demografis di antara mereka.
2.4 Aplikasi Teori Kultivasi Pada Realitas Kehidupan
Efek tayangan televisi, seperti yang dilakukan oleh Leonard Eron dan Rowell
Huesman mengenai efek jangka panjang
dari televisi dengan memfokuskan risetnya pada anak-anak yang tumbuh dari 8-22
tahun. Tontonan yang dinikmati pada 8 tahun akan mendorong kriminal pada usia
30 tahun. Sedangkan pernyataan dari Journal of Youth and Adolescence,
memuat bahwa bentuk kegemaran, tema-tema antagonis, dan sosok keperkasaan para
lelaki yang menginspirasikan musik heavy metal, ternyata sangat digandrungi
remaja lelaki yang berprestasi rendah dan tidak mampu belajar dengan baik di
sekolah.
Selanjutnya temuan-temuan riset yang
dilakukan oleh Baron dan Byrne yang menemukan bahwa terdapat tiga fase dalam
riset kultivasi, antara lain pertama : fase Bobo Doll, kedua adalah fase penelitian laboratorium dan ketiga
adalah fase riset lapangan (Baron dan
Byrne dalam Rakhmat, 2005). Fase ini dirintis oleh Bandura dan
kawan-kawannya yang mencoba meneliti apakah anak-anak yang melihat orang dewasa
melakukan tindakan agresi juga akan melakukan agresi sebagaimana yang mereka
lihat. Hasilnya kelompok pertama dan
kedua melakukan tindakan agresif, hasilnya sebanyak 80-90 persen dari jumlah
kelompok tersebut. Fase kedua penelitian kultivasi yang
mencoba mengganti obyek perilaku agresif secara lebih realitis, yaitu bukan
lagi boneka plastik melainkan manusia. Adegan kekerasan diambilkan dari
film-film yang dilihat para remaja yaitu film serial televisi The
Untouchtables. Liebert dan Baron, yang melakukan penelitian generasi kedua ini
di tahun 1972, membagi para remaja menjadi dua kelompok yaitu kelompok pertama
melihat film The Untouchtables yang berisi beragam adegan kekerasan, dan yang
kedua melihat adegan menarik dari televisi tapi tidak dibumbui adegan kekerasan sama sekali. Kemudian mereka diberi kesempatan untuk menekan tombol
merah yang dikatakan dapat menyakiti remaja yang berada di ruangan lain.
ternyata kelompok pertama lebih banyak dan lebih lama menekan tombol merah dari
pada kelompok kedua. Sedangkan Fase
ketiga dilakukan Layens dan kawan-kawan di Belgia tahun 1975. Perilaku agresif
diamati pada situasi ilmiah bukan di laboratorium dan dengan jangka waktu yang
lama, kegiatan obyek yang diteliti juga tidak diganggu sama sekali. Mereka dibagi kedalam dua
kelompok, dimana kelompok pertama menonton lima film berisi adegan
kekerasan selama seminggu dan kelompok kedua menonton lima film tanpa adegan
kekerasan. Selama seminggu itu pula perilaku mereka diamati secara intens, dan
ternyata kelompok pertama lebih sering melakukan adegan kekerasan (Rakhmat, 2005 ).
Nancy Signorielli (Littlejohn, 1996)
melaporkan studi tentang sindrom dunia kejam. Pada aksi kekerasan di program
televisi bagi anak, lebih dari 2000 program termasuk 6000 karakter utama selama
prime time dan akhir pekan (weekend) dari tahun 1967-1985,
menganalisis dengan hasil yang menarik, 70% prime time dan 94% akhir
pekan (weekend) termasuk aksi kekerasan. Analisis ini membuktikan heavy
viewers memandang dunia muram dan kejam dibandingkan dengan orang yang
jarang menonton televisi. Tidak salah jika kemudian Gerbner dan kawan-kawan
melaporkan bahwa heavy viewers melihat dunia lebih kejam dan menakutkan
seperti yang ditampilkan televisi dari pada orang-orang yang jarang menonton.
Contoh yang lain, para pecandu berat
televisi (heavy viewers) akan menganggap bahwa apa yang terjadi di
televisi itulah dunia senyatanya. Misalnya, tentang perilaku kekerasan yang
terjadi di masyarakat. Para pecandu berat televisi akan mengatakan sebab utama
munculnya kekerasan karena masalah sosial (karena televisi yang ditonton sering
menyuguhkan berita dan kejadian dengan motif sosial sebagai alasan melakukan
kekerasan). Padahal bisa jadi sebab utama itu lebih karena keterkejutan budaya
(cultural shock) dari tradisional ke kehidupan modern. Teori kultivasi
berpendapat bahwa pecandu berat televisi membentuk suatu realitas yang tidak
konsisten dengan kenyataan.
Sebagai contoh pencandu berat televisi
menyatakan bahwa kemungkinan seseorang menjadi korban kejahatan adalah 1
berbading 10. Dalam kenyataan angkanya adalah 1 berbanding 50. Pecandu berat
televisi mengira bahwa 20% dari total penduduk dunia berdiam diri di Amerika.
Kenyataannya hanya 6%. Pecandu berat percaya bahwa persentase karyawan dalam
posisi manajerial atau professional adalah 25%. Kenyataannya hanya 5% (Devito,
1997, lihat juga Nurudin, 2004, Ardianto dkk, 2004). Bagi pecandu berat
televisi, apa yang terjadi pada televisi itulah yang terjadi pada dunia
sesungguhnya.
Di indoenasia sendiri, program acara
sinetron yang diputar televisi swasta Indonesia nyaris seragam. Misalnya Paris
Folling in Love, Janji Suci, ABG, dan lain-lain. Masing-masing sinetron
tersebut membahas konflik antar orang tua dan anak serta hamil di luar nikah.
Para pecandu berat televisi akan mengatakan bahwa di masyarakat sekarang banyak
gejala hamil di luar nikah, karena televisi lewat sinetronnya banyak atau bahkan
selalu menceritakan kasus tersebut. Bisa jadi pendapat tersebut tidak salah,
tetapi itu terlalu menggeneralisasi kesemua lapisan masyarakat. Bahwa ada
gejala hamil di luar nikah itu benar, tetapi mengatakan bahwa semua gadis hamil
di luar nikah itu salah. Para pencandu sinetron itu sangat percaya bahwa apa
yang terjadi pada masyarakat, itulah seperti yang dicerminkan dalam
sinetron-sinetron.
Termasuk di sini konflik antara orang
tua dan anak. Kognisi penonton akan mengatakan saat ini semua anak memberontak
kepada orang tua tentang perbedaan antara keduannya, seperti “orang tua kuno,
ketinggalan zaman.” Mereka yakin bahwa televisi adalah potret sesungguhnya
dunia nyata. Padahal seperti yang bisa dilihat, tidak sedikit anak-anak yang
masih hormat atau bahkan masih mengiyakan apa yang dikatakan orang tua mereka.
Pada kateori aplikasi teori kultivasi
dalam kaca mata kekerasan, Gerbner juga berpendapat bahwa gambaran tentang
adegan kekerasan di televisi lebih merupakan pesan simbolik tentang hukum dan
aturan, alih-alih perilaku kekerasan yang diperlihatkan di televisi merupakan
refleksi kejadian di sekitar kita. Jika adegan kekerasan itu merefleksikan
aturan hukum yang tidak bisa mengatasi situasi, seperti yang digambarkan dalam
adegan televisi, bisa jadi yang terjadi sebenarnya juga demikian. Jadi,
kekerasan yang ditayangkan di televisi dianggap sebagai kekerasan yang memang
sedang terjadi di dunia ini. Aturan hukum yang biasa digunakan untuk mengatasi
perilaku kejahatan yang dipertontonkan di televisi akan dikatakan bahwa seperti
itulah hukum kita sekarang ini.
Jika kita menonton acara seperti Buser
(SCTV), Patroli (Indosiar), Sergap (RCTI), Brutal (Lativi) dan TKP malam (TV7),
akan terlihat beberapa perilaku kejahatan yang dilakukan masyarakat. Dalam
acara tersebut tidak sedikit kejahatan yang bisa diungkap. Dalam pandangan
kultivasi dikatakan adegan kekerasaan yang disajikan oleh televisi tersebut
menggambarkan dunia kita yang sebenarnya. Para pecandu berat televisi akan
beranggapan bahwa harus hati-hati keluar rumah karena kejahatan sudah mengincar
kita, dan setiap orang tidak bisa dipercaya, boleh jadi kita akan menjadi
korban selanjutnya dari kejahatan. Apa yang ditayangkan televisi tersebut
dianggap bahwa di Indonesia kejahatan itu sudah sedemikian mewabah dan
kuantitasnya semakin meningkat dari waktu ke waktu. Ini menggambarkan bagaimana
dunia kejahatan yang ada di Indonesia. Demikian sekelumit contoh-contoh
aplikasi teori kultivasi.
2.5 Analisis Teori Kultivasi
Kami memilih studi
kasus dari sebuah program televisi yaitu sinetron Anak jalanan yang tayang di
salah satu stasiun televisi ternama di Indonesia yaitu Rajawali Citra Televisi Indonesia yang
dikenal dengan sebutan RCTI.
Kami menganalisis
dari asumsi/esensi teori kultivasi yang pertama
A. Analisis
isi (Content analysis) yang mengidentifikasi pesan pesan yang disajikan pada
program sinetron Anak jalanan:
1.
Sinetron Anak jalanan
menceritakan seorang anak lelaki yang bernama boy yang hidup di kota
metropolitan yang memiliki kepribadian yang baik dan sholeh namun sedikit cuek.
Dan juga menceritakan kehidupannya mulai dari keluarganya dan sekitar
pergaulannya yang kebetulan dia masuk dalam komunitas motor ditambah cerita
kehidupan asmaranya
2.
Gaya hidup yang
diperlihatkan kebanyakan menampilkan gaya hidup masyarakat menengah keatas identik
dengan kehidupan yang berkemewahan
3.
Gaya berkomunikasi dalam
sinetron ini menggunakan bahasa gaul dikalangan anak remaja di kota kota besar
di Indonesia khususnya Jakarta, tetapi ada juga beberapa karakter yang juga
menggunakan bahasa daerah seperti sunda dan betawi
4.
Gaya berpakaian para
pemeran di sinetron ini masih sebatas wajar dan normal
B. Analisis
Khalayak (Audience research) Mencoba mengetahui pengaruh atau efek dari
sinetron Anak jalanan pada penonton:
1.
Efek yang ditimbulkan
masyarakat akan berfikir bahwa mempunyai kendaraan mewah merupakan kewajiban,
serta memiliki pasangan di usia remaja adalah hal yang baik sebenarnya itu bukanlah contoh yang baik.
2.
Pengaruh Positifnya
pemeran utama dalam sinetron Anak jalanan ini memiliki sifat yang terpuji yaitu
mengajak para teman temannya menjadi kepribadian yang lebih baik dan
mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3.
Pengaruh Negatifnya yang
banyak terlihat seperti menimbulkan pemikiran, tingkah laku dan gaya hidup
seperti didalam sinetron, contohnya berpacaran,sudah mengendarai kendaraan di
usia yang seharusnya belum diperbolehkan serta gaya hidup remaja yang sudah
melebihi umurnya.
BAB
III
Penutup
3.1
Kesimpulan
Dari
paparan hasil analisis yang dijelaskan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan
bahwa sesuai dengan makalah “Analisis
Program Televisi Bedasarkan Teori Kultivasi”, penulis menyimpulkan bahwa
tayangan dari sinetron Anak jalanan memiliki lebih banyak pengaruh yang
mengarah ke segi negatifnya terhadap masyarakat yang menontonnya karna banyak
menceritakan cerita atau peranan yang tidak sesuai umur dan usianya lalu banyak
menceritakan tentang budaya budaya barat yang sebenarnya tidak cocok dengan kehidupan
sosial di Indonesia sendiri. Tetapi sinetron ini juga memiliki pesan yang bisa
berpengaruh ke arah positif seperti pemeran utamanya yang bersifat baik dan
sholeh yang itu bisa di contoh oleh para penontonnya. Penulis menyimpulkan
bahwa sinetron Anak jalanan ini lebih banyak berpengaruh negative kepada para
penontonnya dari pada pengaruh positifnya tapi penulis berpendapat bahwa setiap
sinetron itu memiliki efek positif dan negatifnya jadi para penonton diharapkan
lebih pintar dan peka untuk bisa menyaring program televisi apa yang di
pilihnya dan bagaimana kemudian cara menyikapinya.
3.2
Saran
Menyadari
bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih
fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber -
sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat dipertanggung jawabkan.
Untuk
saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk
menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di jelaskan.
Untuk bagian terakhir dari makalah adalah daftar pustaka.
DAFTAR
PUSTAKA
Nurudin, Pengantar Komunikasi Massa, Rajawali Pers, Jakarta, 2007
Mulyana, Deddy. 2008. Komunikasi
Massa (Kontroversi, Teori, dan Aplikasi). Bandung : Widya
Padjajaran.
Werner dan James, 2008, Teori
Komunikasi. Jakarta : Prenada Media.
Ardianto, Elvinaro, Lukiati Komala E. 2004. Komunikasi Massa Suatu
Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Komentar
Posting Komentar